24 TIPS FOR A BETTER LIFE
1. Take a 10-30 minute walk every day. & while you walk, SMILE. It is the ultimate anti-depressant.
2. Sit in silence for at least 10 minutes each day.
3. When you wake up in the morning complete the following statement, 'My purpose is to __________ today.'
4. Eat more foods that grow on trees and plants and eat less food that is manufactured in plants.
5. Drink green tea and plenty of water. Eat blueberries, wild Alaskan salmon, broccoli, and almonds.
6. Try to make at least three people smile each day.
7. Don't waste your precious energy on gossip, energy vampires, issues of the past, negative thoughts or things you cannot control. Instead invest your energy in the positive present moment.
8. Eat breakfast like a king, lunch like a prince and dinner like a college kid with a maxed out charge card.
9. Life isn't fair, but it's still good.
10. Life is too short to waste time hating anyone.
11. Don't take yourself so seriously. No one else does.
12. You don't have to win every argument. Agree to disagree.
13. Make peace with your past so it won't spoil the present.
14. Don't compare your life to others. You have no idea what their journey is all about.
15. No one is in charge of your happiness except you.
16. Frame every so-called disaster with these words: 'In five years, will this matter?'
17. Forgive everyone for everything.
18. What other people think of you is none of your business.
19. Time heals everything.
20. However good or bad a situation is, it will change.
21. Your job won't take care of you when you are sick. Your friends will. Stay in touch.
22. Envy is a waste of time. You already have all you need.
23. Each night before you go to bed complete the following statements: I am thankful for __________. Today I accomplished _________.
24. Remember that you are too blessed to be stressed.
Kamis, 25 Februari 2010
Selasa, 02 Februari 2010
Lebih Cerdas Daripada yang Diduga
Lebih Cerdas Daripada Yang Diduga
TAHU tidak? Anak kita itu lebih cerdas daripada yang kamu duga!. Cerdas itu lebih dari sekedar meraih peringkat yang baik serta nilai ujian yang baik di sekolah. Cerdas itu lebih dari sekedar pandai membaca, cepat memecahkan soal matematika dan menghafal.
Cerdas itu lebih dari sekedar mempunyai Intellingence Quotient (IQ) tinggi. Psikolog (baca; sikolog) bernama Dr. Howard Gardner memelajari bagaimana anak-anak serta orang dewasa belajar. Ia menemukan ternyata ada berbagai indikator kecerdasan. Umpamanya, kamu bisa Cerdas dalam musik, bisa Cerdas Memahami Sesama dan bahkan bisa Cerdas Memahami Alam. Teori itu disebut oleh Dr. Howard Gardner sebagai Teori Multipel Intelijensi.
Dua pragraf di atas dituangkan Interaksara mengakhiri kupasan buku 'Kamu itu Lebih Cerdas daripada yang Kamu Duga' yang ditulis oleh Thomas Armstrong, Ph. D dengan judul buku aslinya 'You're Smarter Than You Think'. Dengan teori ini Gardner mulai mengubah bagaimana para guru mengajar di sekolah-sekolah di seluruh dunia.
Dr. Howard Gardner menemukan paling tidak 9 (sembilan) macam kecerdasan, yaitu kecerdasan bahasa, kecerdasan musik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan ruang, kecerdasan tubuh-kinestetik, kecerdasan antarpribadi, kecerdasan intrapribadi, kecerdasan naturalis dan eksistensial (Armstrong, 2004).
Mencoba menarik benang merah (baca; merefleksikan) tiga paragraf di atas, beberapa pertanyaan muncul dalam benak penulis. Apakah kita masih berpegang teguh bahwa hanya dengan mengandalkan satu macam kecerdasan saja kita akan sukses dalam pertarungan hidup ini? Apakah orang tua akan marah kalau anaknya yang rajin belajar lalu ditambahnya rajin berolahraga atau bernyanyi/latihan band? Apakah sekolah perlu mengembangkan pendidikan yang membelajarkan sembilan macam kecerdasan tersebut? Bagaimana sikap kita, terlebih sebagai pendidik, terhadap kenyataan bahwa ternyata kecerdasan bukan hanya logis-matematis dan bahasa? Apakah perlu kita mengembangkan kecerdasan lain di luar kecerdasan logis-matematis dan bahasa?
Ada banyak orang yang beranggapan bahwa mengetahui IQ melalui tes IQ merupakan cara yang terbaik untuk menakar kecerdasan seseorang. Tes IQ untuk menentukan tingkat kecerdasan seseorang telah digunakan paling tidak selama 100 tahun terakhir. Yang dilakukan saat tes IQ yaitu memecahkan soal-soal matematika, mendefinisikan kata-kata, menciptakan rancangan-rancangan, mengulang angka-angka dalam ingatan dan menyelesaikan tugas-tugas lainnya.
Padahal, tes IQ tidak sesempurna orang yang di tes IQ tersebut. Mengapa? Karena 1) banyak sekali kecerdasan yang belum dikenali oleh tes IQ, 2) tes IQ tidak dapat meramalkan apa pekerjaan yang cocok setelah besar nanti, 3) tes IQ tidak dapat meramalkan ketercapaian cita-cita, 4) tes IQ hanya memerhatikan bagian besar dari kepandaian bidang kata-kata atau angka-angka dan 5) tes IQ mengabaikan kecerdasan lainnya, seperti musik, seni, alam, eksistensi dan hubungan antarsesama.
Menyikapi fakta bahwa terdapat berbagai macam kecerdasan tersebut, maka sekolah sebenarnya telah menjangkau hal ini, buktinya bahwa terdapat beragam pelajaran yang disuguhkan untuk murid. Paul Suparno dalam bukunya "Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah", menyebutkan bahwa untuk mengajarkan kecerdaan bahasa terdapat pada Bahasa, IPS, Sejarah, Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.
Untuk membelajar Matematis-Logis terdapat pada Matematika, IPA dan Ekonomi. Membelajarkan murid akan kecerdasan ruang ada pelajaran menggambar. Untuk meninggikan kecerdasan tubuh-kinestetis pada pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Meninggikan kecerdasan musikal murid ada Seni Budaya. Untuk mengasah kecerdasan lingkungan terdapat mata pelajaran Biologi. Untuk menajamkan kecerdasan intrapribadi, interpribadi dan eksistensial terdapat pengembangan diri. Jadi, sebenarnya sekolah formal sudah melaksanakan pembelajaran multiple intelijensi ini.
Permasalahan yang terjadi adalah kadang kita kurang menyadari hal ini. Menganggap pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika dan IPA yang lebih penting, tinibang pelajaran di luar itu. Mengapa? Ada banyak alasan, misalnya untuk menyiapkan murid menghadapi ujian nasional. Akhirnya, anak yang tadinya mencintai pelajaran olahraga (karena cita-citanya ingin menjadi atlet) atau yang suka latihan band/suka karaokean di rumah disela-sela kerajinannya belajar, eh malah dimarahi/diomelin oleh orang tuanya.
"Ngapain lu suka latihan band/karaokean atau sering latihan basket/voli/olahraga lainnya, kan itu tidak menjamin masa depanmu, mendingan kamu les bahasa Inggris, Matematika, Kimia, Fisika atau Ekonomi". "Gih pergi les, cepat-cepat!!!". "Ngapain sih piano, gitar, nyanyi pake les segala?". "Ndak ada gunanya tu". Pelajaran itu kan tidak di-UN-kan!. "Ntar tidak lulus ujian ibu/bapak yang malu". Itulah sederetan celotehan ibu/bapak melihat anaknya tidak mau pergi les. Celoteh ibu/bapak tersebut mencerminkan terjadinya paradoks terhadap kecerdasan anak (murid).
Hemat penulis, sikap kita sebagai orang tua, yaitu memberikan bimbingan yang toleran terhadap anak, biarkan dia berkembang dengan bakat/talentanya. Tugas orang tua adalah memberikan arahan, pertimbangan baik/buruk suatu kegiatan dan memberikan peringatan jika si anak sudah berada di luar jalur 'rel' sesungguhnya.
Lalu, tugas guru di sekolah, yaitu guru/staff dan yang lainnya, berikanlah pengertian yang cukup, penjelasan yang maksimal dan dampingan intensif kepada muridnya. Ingatkan bahwa manusia itu unik yang memiliki banyak kecerdasan. Murid sebenarnya dapat mempelajari semua pelajaran dengan baik. Cuman, caranya yang perlu dikatahui. Sudah selayaknya sekolah membimbing murid mengenai bagaimana mempelajari sesuatu. Guru dapat meracik pembelajaran yang menyentuh kedirian setiap murid dan menjangkau semua kecerdasan dominan, agar setiap potensi kecerdasan ditinggikan semuanya. Sadarkan murid bahwa tidak ada satupun orang/murid/anak yang bodoh alias semuanya cerdas.
Libatkan mereka dalam pembelajaran (gunakan aroma pembelajaran konstruktivisme), gali sebanyak mungkin informasi dari murid, gunakan mereka sebagai sumber belajar, jadikan murid sebagai 'guru' bagi murid yang lainnya, sehingga kita mempertegas peran kita adalah sebagai guru (master) sekaligus fasilitator dan mediator pembelajaran. Guru di kelas diharapkan dapat menciptakan suasanan pembelajaran yang menyenangkan, inpiratif, inovatif, komunikatif dan memberdayakan murid. Angkat setinggi-tingginya kecerdasan majemuk murid agar mereka sanggup menyongsong tantangan (misalnya Ulangan, Ujian Sekolah/Nasional) kini, esok maupun kelak ketika mereka sudah berada di masyarakat.
Akhirnya, untuk menjangkau semua itu, penulis kira perlu dibangun sebuah networking (arti; jejaring) antarstakeholders pendidian, bangun komunikasi yang inten, terus-menerus. Guru di sekolah perlu dukungan orang tua. Mari membangun sebuah network pendidikan baik komunikasi antara guru-murid-orang tua, sehingga murid juga merasa didukung sepenuhnya oleh semua orang. Itu semua bermuara pada dtinggikannya, ditingkatkannya, dinaikkan setinggi-tingginya kecerdasan setiap anak (murid).
Sumber: http://www.mail-archive.com/ mediacare@yahoogroups.com
TAHU tidak? Anak kita itu lebih cerdas daripada yang kamu duga!. Cerdas itu lebih dari sekedar meraih peringkat yang baik serta nilai ujian yang baik di sekolah. Cerdas itu lebih dari sekedar pandai membaca, cepat memecahkan soal matematika dan menghafal.
Cerdas itu lebih dari sekedar mempunyai Intellingence Quotient (IQ) tinggi. Psikolog (baca; sikolog) bernama Dr. Howard Gardner memelajari bagaimana anak-anak serta orang dewasa belajar. Ia menemukan ternyata ada berbagai indikator kecerdasan. Umpamanya, kamu bisa Cerdas dalam musik, bisa Cerdas Memahami Sesama dan bahkan bisa Cerdas Memahami Alam. Teori itu disebut oleh Dr. Howard Gardner sebagai Teori Multipel Intelijensi.
Dua pragraf di atas dituangkan Interaksara mengakhiri kupasan buku 'Kamu itu Lebih Cerdas daripada yang Kamu Duga' yang ditulis oleh Thomas Armstrong, Ph. D dengan judul buku aslinya 'You're Smarter Than You Think'. Dengan teori ini Gardner mulai mengubah bagaimana para guru mengajar di sekolah-sekolah di seluruh dunia.
Dr. Howard Gardner menemukan paling tidak 9 (sembilan) macam kecerdasan, yaitu kecerdasan bahasa, kecerdasan musik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan ruang, kecerdasan tubuh-kinestetik, kecerdasan antarpribadi, kecerdasan intrapribadi, kecerdasan naturalis dan eksistensial (Armstrong, 2004).
Mencoba menarik benang merah (baca; merefleksikan) tiga paragraf di atas, beberapa pertanyaan muncul dalam benak penulis. Apakah kita masih berpegang teguh bahwa hanya dengan mengandalkan satu macam kecerdasan saja kita akan sukses dalam pertarungan hidup ini? Apakah orang tua akan marah kalau anaknya yang rajin belajar lalu ditambahnya rajin berolahraga atau bernyanyi/latihan band? Apakah sekolah perlu mengembangkan pendidikan yang membelajarkan sembilan macam kecerdasan tersebut? Bagaimana sikap kita, terlebih sebagai pendidik, terhadap kenyataan bahwa ternyata kecerdasan bukan hanya logis-matematis dan bahasa? Apakah perlu kita mengembangkan kecerdasan lain di luar kecerdasan logis-matematis dan bahasa?
Ada banyak orang yang beranggapan bahwa mengetahui IQ melalui tes IQ merupakan cara yang terbaik untuk menakar kecerdasan seseorang. Tes IQ untuk menentukan tingkat kecerdasan seseorang telah digunakan paling tidak selama 100 tahun terakhir. Yang dilakukan saat tes IQ yaitu memecahkan soal-soal matematika, mendefinisikan kata-kata, menciptakan rancangan-rancangan, mengulang angka-angka dalam ingatan dan menyelesaikan tugas-tugas lainnya.
Padahal, tes IQ tidak sesempurna orang yang di tes IQ tersebut. Mengapa? Karena 1) banyak sekali kecerdasan yang belum dikenali oleh tes IQ, 2) tes IQ tidak dapat meramalkan apa pekerjaan yang cocok setelah besar nanti, 3) tes IQ tidak dapat meramalkan ketercapaian cita-cita, 4) tes IQ hanya memerhatikan bagian besar dari kepandaian bidang kata-kata atau angka-angka dan 5) tes IQ mengabaikan kecerdasan lainnya, seperti musik, seni, alam, eksistensi dan hubungan antarsesama.
Menyikapi fakta bahwa terdapat berbagai macam kecerdasan tersebut, maka sekolah sebenarnya telah menjangkau hal ini, buktinya bahwa terdapat beragam pelajaran yang disuguhkan untuk murid. Paul Suparno dalam bukunya "Teori Inteligensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah", menyebutkan bahwa untuk mengajarkan kecerdaan bahasa terdapat pada Bahasa, IPS, Sejarah, Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan.
Untuk membelajar Matematis-Logis terdapat pada Matematika, IPA dan Ekonomi. Membelajarkan murid akan kecerdasan ruang ada pelajaran menggambar. Untuk meninggikan kecerdasan tubuh-kinestetis pada pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan. Meninggikan kecerdasan musikal murid ada Seni Budaya. Untuk mengasah kecerdasan lingkungan terdapat mata pelajaran Biologi. Untuk menajamkan kecerdasan intrapribadi, interpribadi dan eksistensial terdapat pengembangan diri. Jadi, sebenarnya sekolah formal sudah melaksanakan pembelajaran multiple intelijensi ini.
Permasalahan yang terjadi adalah kadang kita kurang menyadari hal ini. Menganggap pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Matematika dan IPA yang lebih penting, tinibang pelajaran di luar itu. Mengapa? Ada banyak alasan, misalnya untuk menyiapkan murid menghadapi ujian nasional. Akhirnya, anak yang tadinya mencintai pelajaran olahraga (karena cita-citanya ingin menjadi atlet) atau yang suka latihan band/suka karaokean di rumah disela-sela kerajinannya belajar, eh malah dimarahi/diomelin oleh orang tuanya.
"Ngapain lu suka latihan band/karaokean atau sering latihan basket/voli/olahraga lainnya, kan itu tidak menjamin masa depanmu, mendingan kamu les bahasa Inggris, Matematika, Kimia, Fisika atau Ekonomi". "Gih pergi les, cepat-cepat!!!". "Ngapain sih piano, gitar, nyanyi pake les segala?". "Ndak ada gunanya tu". Pelajaran itu kan tidak di-UN-kan!. "Ntar tidak lulus ujian ibu/bapak yang malu". Itulah sederetan celotehan ibu/bapak melihat anaknya tidak mau pergi les. Celoteh ibu/bapak tersebut mencerminkan terjadinya paradoks terhadap kecerdasan anak (murid).
Hemat penulis, sikap kita sebagai orang tua, yaitu memberikan bimbingan yang toleran terhadap anak, biarkan dia berkembang dengan bakat/talentanya. Tugas orang tua adalah memberikan arahan, pertimbangan baik/buruk suatu kegiatan dan memberikan peringatan jika si anak sudah berada di luar jalur 'rel' sesungguhnya.
Lalu, tugas guru di sekolah, yaitu guru/staff dan yang lainnya, berikanlah pengertian yang cukup, penjelasan yang maksimal dan dampingan intensif kepada muridnya. Ingatkan bahwa manusia itu unik yang memiliki banyak kecerdasan. Murid sebenarnya dapat mempelajari semua pelajaran dengan baik. Cuman, caranya yang perlu dikatahui. Sudah selayaknya sekolah membimbing murid mengenai bagaimana mempelajari sesuatu. Guru dapat meracik pembelajaran yang menyentuh kedirian setiap murid dan menjangkau semua kecerdasan dominan, agar setiap potensi kecerdasan ditinggikan semuanya. Sadarkan murid bahwa tidak ada satupun orang/murid/anak yang bodoh alias semuanya cerdas.
Libatkan mereka dalam pembelajaran (gunakan aroma pembelajaran konstruktivisme), gali sebanyak mungkin informasi dari murid, gunakan mereka sebagai sumber belajar, jadikan murid sebagai 'guru' bagi murid yang lainnya, sehingga kita mempertegas peran kita adalah sebagai guru (master) sekaligus fasilitator dan mediator pembelajaran. Guru di kelas diharapkan dapat menciptakan suasanan pembelajaran yang menyenangkan, inpiratif, inovatif, komunikatif dan memberdayakan murid. Angkat setinggi-tingginya kecerdasan majemuk murid agar mereka sanggup menyongsong tantangan (misalnya Ulangan, Ujian Sekolah/Nasional) kini, esok maupun kelak ketika mereka sudah berada di masyarakat.
Akhirnya, untuk menjangkau semua itu, penulis kira perlu dibangun sebuah networking (arti; jejaring) antarstakeholders pendidian, bangun komunikasi yang inten, terus-menerus. Guru di sekolah perlu dukungan orang tua. Mari membangun sebuah network pendidikan baik komunikasi antara guru-murid-orang tua, sehingga murid juga merasa didukung sepenuhnya oleh semua orang. Itu semua bermuara pada dtinggikannya, ditingkatkannya, dinaikkan setinggi-tingginya kecerdasan setiap anak (murid).
Sumber: http://www.mail-archive.com/ mediacare@yahoogroups.com
Uji Coba Ujian Nasional
Hari ini anak kelas XII mulai merasakan lagi atmosfer pertarungan Ujian Nasional. Mereka akan mengikuti Uji Coba Ujian Nasional. Hari pertama yang ringan-dan berat langsung menyapa, BSI dan Matematika. Dari semua persiapan menjelang Ujian Nasional sesungguhnya, Uji Coba ini memang sangat signifikan untuk mengevaluasi sejauh mana semua komponen sekolah turut dalam mensukseskan pelaksanaan Ujian Nasional 2010.
Anak-anak akan mendapatkan pengalaman nyata, dengan berhadapan langsung dengan LJK [yang harus diperlakukan dengan sangat hati-hati dan cermat], menghadapi soal-soal Uji Coba yang sudah disesuaikan dengan kisi-kisi [kemungkinan mereka sudah agak sedikit hafal tipe-tipe soal yang akan keluar], namun jika nanti agak berbeda kompleksitasnya, mereka akan terkejut dan mulai menemukan sensasi Ujian Nasional.
Selamat berjuang ananda. Sabar, ulet dan terus percaya diri. Tuhan memberkati perjuangan kita.
Anak-anak akan mendapatkan pengalaman nyata, dengan berhadapan langsung dengan LJK [yang harus diperlakukan dengan sangat hati-hati dan cermat], menghadapi soal-soal Uji Coba yang sudah disesuaikan dengan kisi-kisi [kemungkinan mereka sudah agak sedikit hafal tipe-tipe soal yang akan keluar], namun jika nanti agak berbeda kompleksitasnya, mereka akan terkejut dan mulai menemukan sensasi Ujian Nasional.
Selamat berjuang ananda. Sabar, ulet dan terus percaya diri. Tuhan memberkati perjuangan kita.
Rabu, 13 Januari 2010
Minggu, 13 Desember 2009
LDK OSIS
LDK OSIS !!
12 - 13 Desember 2009 Pengurus OSIS SMA Negeri 1 Ngemplak diupdate kapabilitas mereka di Wisma Pertanian Tawangmangu. Materi-materi yang diberikan antara lain Kepemimpinan, Manajemen Disiplin, Uniqly of Program. Ada juga outbond dan acara hang out (ini yang paling disuka).
Sementara reproduksi materi berproses, biarlah mereka menikmati alam Pegunungan yang indah, sembari mengumpulkan energi untuk menuntaskan program-program yang bermutu.
Beberapa program yang akan direlease adalah :
1. Majalah Sekolah (Cetak dan Elektronik)
2. Ekskul Teater
3. Aksi sosial dan lingkungan (manajemen sampah plastik dengan reposisi pemulung)
(aksi gilanya : kalau kampung2 menolak pemulung masuk, di SMA N 1 Ngemplak:
Pemulung welcome !!!)
Selamat berjuang ya !!
12 - 13 Desember 2009 Pengurus OSIS SMA Negeri 1 Ngemplak diupdate kapabilitas mereka di Wisma Pertanian Tawangmangu. Materi-materi yang diberikan antara lain Kepemimpinan, Manajemen Disiplin, Uniqly of Program. Ada juga outbond dan acara hang out (ini yang paling disuka).
Sementara reproduksi materi berproses, biarlah mereka menikmati alam Pegunungan yang indah, sembari mengumpulkan energi untuk menuntaskan program-program yang bermutu.
Beberapa program yang akan direlease adalah :
1. Majalah Sekolah (Cetak dan Elektronik)
2. Ekskul Teater
3. Aksi sosial dan lingkungan (manajemen sampah plastik dengan reposisi pemulung)
(aksi gilanya : kalau kampung2 menolak pemulung masuk, di SMA N 1 Ngemplak:
Pemulung welcome !!!)
Selamat berjuang ya !!
Senin, 07 Desember 2009
Sekolah Dirancang untuk Menghasilkan Orang-orang Gagal ??
Judul di atas terkesan sangat provokatif, bukan ? Saya sengaja membuka tulisan ini dengan statement yang keras dan menggugat. Namun jangan salah mengerti. Saya bukan tipe orang yang anti pendidikan formal. Saya sendiri adalah seorang pendidik, lebih tepatnya Re-Educator, yang sangat concern dengan kondisi pendidikan di tanah air. Apa yang saya tulis di bawah ini merupakan kristalisasi hasil belajar saya atas pemikiran para pakar pendidikan seperti Paulo Freire, Ivan Illich, Drost, Everett Reimer, John Holt, Alfie Kohn, Neil Postman, dan William Glasser, ditambah dengan perenungan dan pengalaman pribadi.
Proses pendidikan atau lebih tepatnya pembelajaran yang terjadi di sekolah selama ini sangat jauh dari praktik pembelajaran yang manusiawi, yang sesuai dengan cara belajar alamiah kita. Konsep ?belajar? yang diterapkan telah sangat usang dan merupakan warisan dari jaman agraria dan industri.
Kembali saya ulangi, masalah utama yang ada dalam sistem pendidikan kita adalah sekolah memang dirancang untuk menghasilkan anak gagal. Ini semua sebagai akibat dari sistem pengujian kita yang menggunakan referensi norma, yang sangat mengagungkan penggunaan kurva distribusi normal atau kurva lonceng (Bell Curve). Kurva distribusi normal ini mengharuskan ada 10% anak yang prestasinya rendah, 80% rata-rata, dan 10% yang berprestasi cemerlang.
Bulan lalu dalam dua kesempatan yang berbeda saya memberikan pelatihan untuk para kepala sekolah SD Negeri dan Pengawas (tingkat TK dan SD) se kabupaten/kota Jawa Timur. Saat bertanya, ?Bapak / Ibu, jika anda punya 40 orang murid dalam satu kelas, dan saat ujian semua dapat nilai 100, anda sukses atau gagal ??. Bak paduan suara yang sangat kompak, serentak mereka menjawab, ?Gagal...?. ?Lho, koq gagal?, tanya saya. ?Ya Pak, kalau semua dapat 100 maka pasti soalnya terlalu mudah, atau gurunya yang tidak bisa membuat soal?, jawab mereka kompak.
Saya lalu mengejar dengan pertanyaan, ?Bapak dan Ibu, misalnya anda diminta mengajar 40 orang anak memasak nasi goreng sea-food spesial. Kalau semua belum bisa (saya tidak menggunakan kata ?tidak bisa?) memasak nasi goreng seperti yang anda inginkan, apa yang akan anda lakukan ??. ?Ya, kita akan mengulangi lagi sampai si anak benar-benar bisa?, jawab mereka. ?Sekarang, kalau semuanya berhasil memasak nasi goreng yang sangat enak, anda berhasil atau gagal ??, tanya saya lagi. ?Wah, kalau semuanya bisa, ini berarti kita sangat berhasil Pak?, jawab mereka. ?Kalau begitu apa bedanya antara mengajar anak memasak nasi goreng dengan mengajar anak suatu pelajaran, misalnya matematika atau bahasa Inggris ??, kejar saya lagi. Kali ini semuanya diam dan tidak bisa berkomentar.
Saya lalu menjelaskan mengenai kurva distribusi normal yang sebenarnya, kalau menurut pendapat saya pribadi, tidak normal. Mendapat penjelasan ini para peserta akhirnya bisa memahami apa yang saya sampaikan. Saat break saya menemukan satu hal yang sangat menarik. Para kepala sekolah dan pengawas ini sadar bahwa apa yang saya sampaikan itu memang benar dan memang seharusnya demikian cara kita mendidik murid. Namun mereka terikat pada aturan main (baca: sistem pendidikan). Mereka merasa tak berdaya karena bila mereka bersikeras untuk tidak mau mengikuti arus maka mereka akan mendapat kesulitan.
Saya lalu menceritakan keberhasilan kawan saya, Bpk. Danang Prijadi saat mengajar mata kuliah Dasar Filsafat di satu universitas ternama di Surabaya. Ada 3 kelas pararel, masing-masing berisi 40an mahasiswa, dengan dosen yang berbeda. Saat ujian, 95% dari murid di kelas Pak Danang mendapatkan nilai A, sisanya yang 5% dapat nilai B dan C. Hal ini sangat mengejutkan pihak universitas dan dosen lainnya. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi ? Bukankah ini menyalahi kurva distribusi normal ? Dan yang lebih ciamik lagi, soal yang diujikan bukan disusun oleh Bpk Danang, tapi disusun oleh tim tersendiri.
Tujuan kita mengajar anak adalah agar anak bisa menguasai apa yang diajarkan, tidak peduli apa cara yang digunakan. Yang penting ujung-ujungnya anak bisa menguasai dengan baik apa yang diajarkan. Kalau cara mengajar yang digunakan di sekolah kita terapkan untuk mengajar anak kita, yang masih kecil, belajar bicara atau berjalan, maka pasti kita akan ?shocked? karena ternyata, dengan sistem penilaian yang digunakan di sekolah, anak-anak kita akan masuk kategori anak yang ?idiot?. Mengapa masuk kategori ?idiot? ? Karena anak-anak kita ?gagal? terus. Nilai mereka selalu Do ? Re ? Mi alias 1 , 2, atau 3.
Dalam hampir setiap kasus yang pernah saya temui, bila ada timbul masalah belajar biasanya kita hanya melihat pada sisi anak. Jarang sekali kita melihat dan mencari tahu peran yang dimainkan oleh sekolah dan sistem pendidikan kita hingga masalah muncul. Anak yang dianggap bermasalah biasanya akan diterapi melalui BK (bimbingan konseling) dan kalau masih tidak bisa menjadi anak yang ?baik? , anak ini dikeluarkan. Di sini terlihat bahwa sebenarnya anak tidak ?Drop Out? tapi ?Pushed Out?.
Lalu, apa sih sebenarnya ujian itu ? Untuk kondisi saat ini, ujian adalah suatu cara untuk mengetahui kecepatan mengingat kembali (recall), suatu informasi yang telah dihapal sebelumnya (register), dan menggunakan (apply) informasi yang telah diingat kembali untuk menjawab soal ujian, bukan menjawab persoalan hidup. Singkatnya, ujian saat ini hanyalah menguji kemampuan menghapal. Celakanya, sekolah tidak pernah mengajarkan anak didik teknik, cara, metode, atau strategi menghapal yang baik dan benar, yang sesuai dengan cara kerja otak dan pikiran dalam menyerap informasi.
Sistem ujian kita menggunakan sistem closed-book atau buku tertutup. Praktek ini didasari oleh asumsi bahwa kemampuan mengingat suatu pengetahuan jauh lebih berharga dari pada kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Ujian closed-book ditambah lagi murid tidak boleh kerja sama akhirnya sangat membebani anak didik.Tolong jangan salah mengerti. Saya juga tidak setuju bila anak nyontek. Tapi kalau memang bisa mengapa kita tidak mengajarkan cara belajar kolaborasi ? Sistem closed-book mempunyai beberapa keburukan lainnya. Cara menguji seperti ini memberikan beban ekstra bagi anak. Anak yang sangat pintar dalam hal aplikasi akan mendapat nilai jelek bila ia lupa rumus atau definisi. Bila kita mengacu pada hirarki kognisi seseorang, sesuai dengan taksonomi Bloom, maka cara ujian seperti ini hanya mengajarkan anak untuk berpikir pada level yang rendah, level menghapal saja. Kita tidak mengajar anak berpikir pada level yang lebih tinggi yaitu analisa, sintesa dan evaluasi.
Jadi, bila kita berbicara mengenai sistem pengujian, kebanyakan yang anak lakukan adalah suatu permainan yang tidak bermutu. Anak hanya belajar menghapal dan membeo. Anak tidak dibenarkan untuk berpikir kreatif dan inovatif. Agar lulus dan selamat, anak harus menjawab seperti yang diajarkan oleh guru dan harus sesuai dengan kunci jawaban yang dimiliki guru. Para pendidik saat ini telah merendahkan martabat dan kemampuan mahluk ciptaan Tuhan. Otak kita, yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, dirancang untuk berpikir namun sistem pendidikan telah mereduksi fungsi otak hanya sebagai mesin foto kopi.
Setiap kegagalan yang dialami oleh anak di sekolah akan mengakibatkan konsep diri yang buruk. Padahal kita tahu bahwa konsep diri merupakan pondasi untuk keberhasilan di bidang apa saja dalam hidup. Dari pengalaman saya memberikan konseling, saya menemukan bahwa konsep diri yang buruk ini selalu berhubungan dengan berbagai kegagalan yang telah atau pernah dialami saat sekolah. Dan satu hal yang penting yang saya temukan adalah bahwa untuk bisa memperbaiki konsep diri yang sudah terlanjur negatip atau buruk kita perlu mencari dan mengingat kembali berbagai keberhasilan yang pernah kita capai (kisah sukses). Mengutip apa yang Glasser katakan, ?Tidak peduli berapa banyak kegagalan yang pernah dilakukan oleh seseorang di masa lalu, tidak masalah apa latar belakang, budaya, warna kulit, latar belakang sosial ekonomi, atau apapun itu, ia tidak akan bisa berhasil hingga ia, melalui suatu kesempatan, mulai mencapai keberhasilan dalam salah satu aspek kehidupan mereka?.
Saya percaya jika seorang anak, tidak peduli apapun latar belakangnya, dapat berhasil di sekolah, maka ia mempunyai kemungkinan besar untuk berhasil dalam hidupnya. Jika ia merasakan kegagalan dalam proses pendidikannya, baik itu pada tingkat SD, SMP, dan SMA, atau di PT / Universitas, maka kesempatannya untuk berhasil dalam hidup menurun drastis. Kalau kita hubungkan dengan proses pemrograman pikiran, maka semuanya akan tampak sangat gamblang. Anak yang telah terlanjur (diprogram untuk) percaya bahwa ia adalah seorang pecundang, bodoh, tidak bisa, dan selalu gagal, pasti akan menjadi seperti yang ia yakini. It?s a self-fulfilling prophecy.
Sudah saatnya kita mengubah sistem pendidikan kita menjadi suatu sistem yang benar-benar mampu memberdayakan anak kita. Merupakan tanggung jawab kita bersama untuk bisa membantu mengembangkan semua potensi yang dimiliki olah anak-anak kita, melalui proses pendidikan yang memanusiakan anak manusia.
Lalu bagaimana cara kita untuk bisa membantu anak berkembang ? Ada dua hal dasar, menurut Glasser, yang perlu diperhatikan berkenaan dengan kebutuhan anak. Yang pertama, kebutuhan akan cinta dan mencintai. Yang ke dua adalah kebutuhan akan rasa diri berharga.
Kebutuhan akan cinta dan mencintai ini merupakan hal yang paling mendasar yang perlu didapat oleh anak, dan berlaku sebagai pondasi untuk mencapai sukses. Jika seseorang mampu memberikan dan menerima cinta, dan mampu melakukannya secara konsisten dalam hidupnya, maka sampai pada tingkat tertentu ia bisa dikatakan berhasil.
Sering kali kita berpikir bahwa pemenuhan kebutuhan cinta dan mencintai ini hanya bisa dilakukan di rumah saja. Ternyata keyakinan ini salah. Banyak masalah yang timbul di sekolah, baik itu dalam bentuk murid yang tidak kooperatif, tidak ada motivasi belajar, masalah disiplin, murid yang nakal, dan masalah lainnya, semua berawal dari tidak terpenuhinya kebutuhan mendasar seorang anak yaitu cinta dan mencintai. Anak membutuhkan cinta tidak hanya dari rumah, tetapi juga di sekolah, baik itu dari gurunya maupun dari kawan-kawannya.
Sekolah lebih banyak memperhatikan kebutuhan dasar yang ke dua yaitu rasa diri berharga. Bagaimana sekolah bisa memenuhi kebutuhan rasa diri berharga? Untuk bisa mencapai rasa diri berharga dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir. Jika seorang anak masuk sekolah dan gagal dalam upaya memperoleh pengetahuan, belajar cara belajar, belajar berpikir yang benar ? berpikir level tinggi, belajar memecahkan masalah, maka kegagalan ini akan terus terbawa hingga anak menjadi manusia dewasa. Orangtua, lingkungan, dan masyarakat tampaknya tidak mampu memperbaiki kegagalan ini.
Dalam proses mengembangkan rasa diri berharga, dengan memiliki pengetahuan, mampu berpikir benar dan memecahkan masalah yang dia hadapi, seorang anak akan mempunyai rasa percaya diri yang kuat untuk belajar memberi dan menerima cinta. Paling tidak seorang anak mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan cinta, saat ia merasa dirinya berharga, sehingga ia dapat bertahan dalam menghadapi penolakkan.
Melalui cinta seorang anak akan mengembangkan motivasi untuk berhasil dan merasa diri berharga. Jika anak tidak belajar untuk bisa memberikan cinta maka anak akan menjadi anak yang sering merasa gagal. Hal ini terlihat pada anak yang terlalu dimanja dan terlalu dilindungi.
Cinta dan rasa diri berharga ini merupakan satu kesatuan yang sering kita hubungkan dengan identitas pribadi. Cinta dan rasa diri berharga dapat dipandang sebagai dua jalan untuk mencapai identitas pribadi yang berhasil. Bagi kebanyakan anak hanya ada dua tempat di mana mereka bisa mendapatkan identitas diri sebagai pribadi yang sukses yaitu di rumah dan sekolah.
Dalam konteks sekolah, cinta dapat diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab sosial. Bila anak tidak belajar untuk bertanggung jawab terhadap sesama, peduli dengan sesama, dan membantu sesama, maka cinta akan menjadi konsep yang lemah dan terbatas.
disadur dari : Adi W. Gunawan, adi@adiwgunawan.com
Proses pendidikan atau lebih tepatnya pembelajaran yang terjadi di sekolah selama ini sangat jauh dari praktik pembelajaran yang manusiawi, yang sesuai dengan cara belajar alamiah kita. Konsep ?belajar? yang diterapkan telah sangat usang dan merupakan warisan dari jaman agraria dan industri.
Kembali saya ulangi, masalah utama yang ada dalam sistem pendidikan kita adalah sekolah memang dirancang untuk menghasilkan anak gagal. Ini semua sebagai akibat dari sistem pengujian kita yang menggunakan referensi norma, yang sangat mengagungkan penggunaan kurva distribusi normal atau kurva lonceng (Bell Curve). Kurva distribusi normal ini mengharuskan ada 10% anak yang prestasinya rendah, 80% rata-rata, dan 10% yang berprestasi cemerlang.
Bulan lalu dalam dua kesempatan yang berbeda saya memberikan pelatihan untuk para kepala sekolah SD Negeri dan Pengawas (tingkat TK dan SD) se kabupaten/kota Jawa Timur. Saat bertanya, ?Bapak / Ibu, jika anda punya 40 orang murid dalam satu kelas, dan saat ujian semua dapat nilai 100, anda sukses atau gagal ??. Bak paduan suara yang sangat kompak, serentak mereka menjawab, ?Gagal...?. ?Lho, koq gagal?, tanya saya. ?Ya Pak, kalau semua dapat 100 maka pasti soalnya terlalu mudah, atau gurunya yang tidak bisa membuat soal?, jawab mereka kompak.
Saya lalu mengejar dengan pertanyaan, ?Bapak dan Ibu, misalnya anda diminta mengajar 40 orang anak memasak nasi goreng sea-food spesial. Kalau semua belum bisa (saya tidak menggunakan kata ?tidak bisa?) memasak nasi goreng seperti yang anda inginkan, apa yang akan anda lakukan ??. ?Ya, kita akan mengulangi lagi sampai si anak benar-benar bisa?, jawab mereka. ?Sekarang, kalau semuanya berhasil memasak nasi goreng yang sangat enak, anda berhasil atau gagal ??, tanya saya lagi. ?Wah, kalau semuanya bisa, ini berarti kita sangat berhasil Pak?, jawab mereka. ?Kalau begitu apa bedanya antara mengajar anak memasak nasi goreng dengan mengajar anak suatu pelajaran, misalnya matematika atau bahasa Inggris ??, kejar saya lagi. Kali ini semuanya diam dan tidak bisa berkomentar.
Saya lalu menjelaskan mengenai kurva distribusi normal yang sebenarnya, kalau menurut pendapat saya pribadi, tidak normal. Mendapat penjelasan ini para peserta akhirnya bisa memahami apa yang saya sampaikan. Saat break saya menemukan satu hal yang sangat menarik. Para kepala sekolah dan pengawas ini sadar bahwa apa yang saya sampaikan itu memang benar dan memang seharusnya demikian cara kita mendidik murid. Namun mereka terikat pada aturan main (baca: sistem pendidikan). Mereka merasa tak berdaya karena bila mereka bersikeras untuk tidak mau mengikuti arus maka mereka akan mendapat kesulitan.
Saya lalu menceritakan keberhasilan kawan saya, Bpk. Danang Prijadi saat mengajar mata kuliah Dasar Filsafat di satu universitas ternama di Surabaya. Ada 3 kelas pararel, masing-masing berisi 40an mahasiswa, dengan dosen yang berbeda. Saat ujian, 95% dari murid di kelas Pak Danang mendapatkan nilai A, sisanya yang 5% dapat nilai B dan C. Hal ini sangat mengejutkan pihak universitas dan dosen lainnya. Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi ? Bukankah ini menyalahi kurva distribusi normal ? Dan yang lebih ciamik lagi, soal yang diujikan bukan disusun oleh Bpk Danang, tapi disusun oleh tim tersendiri.
Tujuan kita mengajar anak adalah agar anak bisa menguasai apa yang diajarkan, tidak peduli apa cara yang digunakan. Yang penting ujung-ujungnya anak bisa menguasai dengan baik apa yang diajarkan. Kalau cara mengajar yang digunakan di sekolah kita terapkan untuk mengajar anak kita, yang masih kecil, belajar bicara atau berjalan, maka pasti kita akan ?shocked? karena ternyata, dengan sistem penilaian yang digunakan di sekolah, anak-anak kita akan masuk kategori anak yang ?idiot?. Mengapa masuk kategori ?idiot? ? Karena anak-anak kita ?gagal? terus. Nilai mereka selalu Do ? Re ? Mi alias 1 , 2, atau 3.
Dalam hampir setiap kasus yang pernah saya temui, bila ada timbul masalah belajar biasanya kita hanya melihat pada sisi anak. Jarang sekali kita melihat dan mencari tahu peran yang dimainkan oleh sekolah dan sistem pendidikan kita hingga masalah muncul. Anak yang dianggap bermasalah biasanya akan diterapi melalui BK (bimbingan konseling) dan kalau masih tidak bisa menjadi anak yang ?baik? , anak ini dikeluarkan. Di sini terlihat bahwa sebenarnya anak tidak ?Drop Out? tapi ?Pushed Out?.
Lalu, apa sih sebenarnya ujian itu ? Untuk kondisi saat ini, ujian adalah suatu cara untuk mengetahui kecepatan mengingat kembali (recall), suatu informasi yang telah dihapal sebelumnya (register), dan menggunakan (apply) informasi yang telah diingat kembali untuk menjawab soal ujian, bukan menjawab persoalan hidup. Singkatnya, ujian saat ini hanyalah menguji kemampuan menghapal. Celakanya, sekolah tidak pernah mengajarkan anak didik teknik, cara, metode, atau strategi menghapal yang baik dan benar, yang sesuai dengan cara kerja otak dan pikiran dalam menyerap informasi.
Sistem ujian kita menggunakan sistem closed-book atau buku tertutup. Praktek ini didasari oleh asumsi bahwa kemampuan mengingat suatu pengetahuan jauh lebih berharga dari pada kemampuan untuk mencari sumber pengetahuan. Ujian closed-book ditambah lagi murid tidak boleh kerja sama akhirnya sangat membebani anak didik.Tolong jangan salah mengerti. Saya juga tidak setuju bila anak nyontek. Tapi kalau memang bisa mengapa kita tidak mengajarkan cara belajar kolaborasi ? Sistem closed-book mempunyai beberapa keburukan lainnya. Cara menguji seperti ini memberikan beban ekstra bagi anak. Anak yang sangat pintar dalam hal aplikasi akan mendapat nilai jelek bila ia lupa rumus atau definisi. Bila kita mengacu pada hirarki kognisi seseorang, sesuai dengan taksonomi Bloom, maka cara ujian seperti ini hanya mengajarkan anak untuk berpikir pada level yang rendah, level menghapal saja. Kita tidak mengajar anak berpikir pada level yang lebih tinggi yaitu analisa, sintesa dan evaluasi.
Jadi, bila kita berbicara mengenai sistem pengujian, kebanyakan yang anak lakukan adalah suatu permainan yang tidak bermutu. Anak hanya belajar menghapal dan membeo. Anak tidak dibenarkan untuk berpikir kreatif dan inovatif. Agar lulus dan selamat, anak harus menjawab seperti yang diajarkan oleh guru dan harus sesuai dengan kunci jawaban yang dimiliki guru. Para pendidik saat ini telah merendahkan martabat dan kemampuan mahluk ciptaan Tuhan. Otak kita, yang memiliki kemampuan yang sangat luar biasa, dirancang untuk berpikir namun sistem pendidikan telah mereduksi fungsi otak hanya sebagai mesin foto kopi.
Setiap kegagalan yang dialami oleh anak di sekolah akan mengakibatkan konsep diri yang buruk. Padahal kita tahu bahwa konsep diri merupakan pondasi untuk keberhasilan di bidang apa saja dalam hidup. Dari pengalaman saya memberikan konseling, saya menemukan bahwa konsep diri yang buruk ini selalu berhubungan dengan berbagai kegagalan yang telah atau pernah dialami saat sekolah. Dan satu hal yang penting yang saya temukan adalah bahwa untuk bisa memperbaiki konsep diri yang sudah terlanjur negatip atau buruk kita perlu mencari dan mengingat kembali berbagai keberhasilan yang pernah kita capai (kisah sukses). Mengutip apa yang Glasser katakan, ?Tidak peduli berapa banyak kegagalan yang pernah dilakukan oleh seseorang di masa lalu, tidak masalah apa latar belakang, budaya, warna kulit, latar belakang sosial ekonomi, atau apapun itu, ia tidak akan bisa berhasil hingga ia, melalui suatu kesempatan, mulai mencapai keberhasilan dalam salah satu aspek kehidupan mereka?.
Saya percaya jika seorang anak, tidak peduli apapun latar belakangnya, dapat berhasil di sekolah, maka ia mempunyai kemungkinan besar untuk berhasil dalam hidupnya. Jika ia merasakan kegagalan dalam proses pendidikannya, baik itu pada tingkat SD, SMP, dan SMA, atau di PT / Universitas, maka kesempatannya untuk berhasil dalam hidup menurun drastis. Kalau kita hubungkan dengan proses pemrograman pikiran, maka semuanya akan tampak sangat gamblang. Anak yang telah terlanjur (diprogram untuk) percaya bahwa ia adalah seorang pecundang, bodoh, tidak bisa, dan selalu gagal, pasti akan menjadi seperti yang ia yakini. It?s a self-fulfilling prophecy.
Sudah saatnya kita mengubah sistem pendidikan kita menjadi suatu sistem yang benar-benar mampu memberdayakan anak kita. Merupakan tanggung jawab kita bersama untuk bisa membantu mengembangkan semua potensi yang dimiliki olah anak-anak kita, melalui proses pendidikan yang memanusiakan anak manusia.
Lalu bagaimana cara kita untuk bisa membantu anak berkembang ? Ada dua hal dasar, menurut Glasser, yang perlu diperhatikan berkenaan dengan kebutuhan anak. Yang pertama, kebutuhan akan cinta dan mencintai. Yang ke dua adalah kebutuhan akan rasa diri berharga.
Kebutuhan akan cinta dan mencintai ini merupakan hal yang paling mendasar yang perlu didapat oleh anak, dan berlaku sebagai pondasi untuk mencapai sukses. Jika seseorang mampu memberikan dan menerima cinta, dan mampu melakukannya secara konsisten dalam hidupnya, maka sampai pada tingkat tertentu ia bisa dikatakan berhasil.
Sering kali kita berpikir bahwa pemenuhan kebutuhan cinta dan mencintai ini hanya bisa dilakukan di rumah saja. Ternyata keyakinan ini salah. Banyak masalah yang timbul di sekolah, baik itu dalam bentuk murid yang tidak kooperatif, tidak ada motivasi belajar, masalah disiplin, murid yang nakal, dan masalah lainnya, semua berawal dari tidak terpenuhinya kebutuhan mendasar seorang anak yaitu cinta dan mencintai. Anak membutuhkan cinta tidak hanya dari rumah, tetapi juga di sekolah, baik itu dari gurunya maupun dari kawan-kawannya.
Sekolah lebih banyak memperhatikan kebutuhan dasar yang ke dua yaitu rasa diri berharga. Bagaimana sekolah bisa memenuhi kebutuhan rasa diri berharga? Untuk bisa mencapai rasa diri berharga dibutuhkan pengetahuan dan kemampuan untuk berpikir. Jika seorang anak masuk sekolah dan gagal dalam upaya memperoleh pengetahuan, belajar cara belajar, belajar berpikir yang benar ? berpikir level tinggi, belajar memecahkan masalah, maka kegagalan ini akan terus terbawa hingga anak menjadi manusia dewasa. Orangtua, lingkungan, dan masyarakat tampaknya tidak mampu memperbaiki kegagalan ini.
Dalam proses mengembangkan rasa diri berharga, dengan memiliki pengetahuan, mampu berpikir benar dan memecahkan masalah yang dia hadapi, seorang anak akan mempunyai rasa percaya diri yang kuat untuk belajar memberi dan menerima cinta. Paling tidak seorang anak mempunyai peluang yang lebih besar untuk mendapatkan cinta, saat ia merasa dirinya berharga, sehingga ia dapat bertahan dalam menghadapi penolakkan.
Melalui cinta seorang anak akan mengembangkan motivasi untuk berhasil dan merasa diri berharga. Jika anak tidak belajar untuk bisa memberikan cinta maka anak akan menjadi anak yang sering merasa gagal. Hal ini terlihat pada anak yang terlalu dimanja dan terlalu dilindungi.
Cinta dan rasa diri berharga ini merupakan satu kesatuan yang sering kita hubungkan dengan identitas pribadi. Cinta dan rasa diri berharga dapat dipandang sebagai dua jalan untuk mencapai identitas pribadi yang berhasil. Bagi kebanyakan anak hanya ada dua tempat di mana mereka bisa mendapatkan identitas diri sebagai pribadi yang sukses yaitu di rumah dan sekolah.
Dalam konteks sekolah, cinta dapat diwujudkan dalam bentuk tanggung jawab sosial. Bila anak tidak belajar untuk bertanggung jawab terhadap sesama, peduli dengan sesama, dan membantu sesama, maka cinta akan menjadi konsep yang lemah dan terbatas.
disadur dari : Adi W. Gunawan, adi@adiwgunawan.com
Sabtu, 28 November 2009
Bahan Ajar Kimia SMA
BAB I
BERKENALAN DENGAN ILMU KIMIA
1.1 Ruang Lingkup Ilmu Kimia
Definisi :
Ø Secara singkat, Ilmu Kimia adalah ilmu rekayasa materi yaitu mengubah suatu materi menjadi materi yang lain.
Ø Secara lengkap, Ilmu Kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang :
a. Susunan materi = mencakup komponen-komponen pembentuk materi dan perbandingan tiap komponen tersebut.
b. Struktur materi = mencakup struktur partikel-partikel penyusun suatu materi atau menggambarkan bagaimana atom-atom penyusun materi tersebut saling berikatan.
c. Sifat materi = mencakup sifat fisis (wujud dan penampilan) dan sifat kimia. Sifat suatu materi dipengaruhi oleh : susunan dan struktur dari materi tersebut.
d. Perubahan materi = meliputi perubahan fisis/fisika (wujud) dan perubahan kimia (menghasilkan zat baru).
e. Energi yang menyertai perubahan materi = menyangkut banyaknya energi yang menyertai sejumlah materi dan asal-usul energi itu.
Ø Ilmu Kimia dikembangkan oleh para ahli kimia untuk menjawab pertanyaan “apa” dan “mengapa” tentang sifat materi yang ada di alam.
Ø Pengetahuan yang lahir dari upaya untuk menjawab pertanyaan “apa” merupakan suatu fakta yaitu : sifat-sifat materi yang diamati sama oleh setiap orang akan menghasilkan Pengetahuan Deskriptif.
Ø Pengetahuan yang lahir dari upaya untuk menjawab pertanyaan “mengapa” suatu materi memiliki sifat tertentu akan menghasilkan Pengetahuan Teoritis.
v Skema bagaimana Ilmu Kimia dikembangkan :
Menarik kesimpulan umum
Merancang dan melakukan eksperimen
Menciptakan teori
1.2 Manfaat Mempelajari Ilmu Kimia
Meliputi :
- Pemahaman kita menjadi lebih baik terhadap alam sekitar dan berbagai proses yang berlangsung di dalamnya.
- Mempunyai kemampuan untuk mengolah bahan alam menjadi produk yang lebih berguna bagi manusia.
- Membantu kita dalam rangka pembentukan sikap.
· Secara khusus, ilmu kimia mempunyai peranan sangat penting dalam bidang : kesehatan, pertanian, peternakan, hukum, biologi, arsitektur dan geologi. (Sebutkan peranan ilmu kimia dalam bidang-bidang tersebut!)
· Dibalik sumbangannya yang besar bagi kehidupan kita, secara jujur harus diakui bahwa perkembangan ilmu kimia juga memberikan dampak negatif bagi kehidupan manusia. (Sebutkan contohnya!)
1.3 Cabang-Cabang Ilmu Kimia
Meliputi :
1) Kimia Analisis
= mempelajari tentang analisis bahan-bahan kimia yang terdapat dalam suatu produk.
2) Kimia Fisik
= fokus kajiannya berupa penentuan energi yang menyertai terjadinya reaksi kimia, sifat fisis zat serta perubahan senyawa kimia.
3) Kimia Organik
= mempelajari bahan-bahan kimia yang terdapat dalam makhluk hidup.
4) Kimia Anorganik
= kebalikan dari kimia organik; mempelajari benda mati.
5) Kimia Lingkungan
= mempelajari tentang segala sesuatu yang terjadi di lingkungan, terutama yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan dan cara penanggulangannya.
6) Kimia Inti ( Radiokimia )
= mempelajari zat-zat radioaktif.
7) Biokimia
= cabang ilmu kimia yang sangat erat kaitannya dengan ilmu biologi.
8) Kimia Pangan
= mempelajari bagaimana cara meningkatkan mutu bahan pangan.
9) Kimia Farmasi
= fokus kajiannya berupa penelitian dan pengembangan bahan-bahan yang mengandung obat.
1.4 Perkembangan Ilmu Kimia
1) Sekitar tahun 3500 SM, di Mesir Kuno sudah mempraktekkan reaksi kimia (misal : cara membuat anggur, pengawetan mayat).
2) Pada abad ke-4 SM, para filosofis Yunani yaitu Democritus dan Aristoteles mencoba memahami hakekat materi.
o Menurut Democritus = setiap materi terdiri dari partikel kecil yang disebut atom.
o Menurut Aristoteles = materi terbentuk dari 4 jenis unsur yaitu : tanah, air, udara dan api.
3) Abad pertengahan (tahun 500-1600), yang dipelopori oleh para ahli kimia Arab dan Persia.
§ Kimia lebih mengarah ke segi praktis. Dihasilkan berbagai jenis zat seperti : alkohol, arsen, zink asam iodida, asam sulfat dan asam nitrat.
§ Nama ilmu kimia lahir, dari kata dalam bahasa Arab (al-kimiya = perubahan materi) oleh ilmuwan Arab Jabir ibn Hayyan (tahun 700-778).
4) Abad ke-18, muncul istilah Kimia Modern. Dipelopori oleh ahli kimia Perancis Antoine Laurent Lavoisier (tahun 1743-1794) yang berhasil mengemukakan hukum kekekalan massa.
5) Tahun 1803, seorang ahli kimia Inggris bernama John Dalton (tahun 1766-1844) mengajukan teori atom untuk pertama kalinya. Sejak itu, ilmu kimia terus berkembang pesat hingga saat ini.
1.5 Pengenalan Laboratorium
Laboratorium = suatu tempat bagi seorang praktikan untuk melakukan percobaan.
Praktikan = orang yang melakukan percobaan / praktikum.
Ø Bahan Kimia
Jenis bahan kimia berdasarkan sifatnya :
a) mudah meledak (explosive)
b) pengoksidasi (oxidizing)
c) karsinogenik (carcinogenic : memicu timbulnya sel kanker)
d) berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment)
e) mudah menyala (flammable)
f) beracun (toxic)
g) korosif (corrosive)
h) menyebabkan iritasi (irritant)
v Persiapan kerja di laboratorium :
1. Merencanakan percobaan yang akan dilakukan sebelum memulai praktikum
2. Menggunakan peralatan kerja (kacamata, jas praktikum, sarung tangan dan sepatu tertutup)
3. Bagi wanita yang berambut panjang, diharuskan mengikat rambutnya
4. Dilarang makan, minum dan merokok
5. Menjaga kebersihan meja praktikum dan lingkungan laboratorium
6. Membiasakan mencuci tangan dengan sabun dan air bersih terutama sehabis praktikum
7. Bila kulit terkena bahan kimia, jangan digaruk agar tidak menyebar
8. Memastikan bahwa kran gas tidak bocor sewaktu hendak menggunakan bunsen
9. Pastikan bahwa kran air selalu dalam keadaan tertutup sebelum dan sesudah melakukan praktikum
1.6 Teknik Bekerja di Laboratorium
o Penanganan terhadap bahan kimia :
a) Menghindari kontak langsung dengan bahan kimia
b) Menghindari untuk mencium langsung uap bahan kimia
c) Menggunakan sarung tangan
o Jika ingin memindahkan bahan kimia :
a) Membaca label bahan kimia (minimal 2 kali)
b) Memindahkan sesuai dengan jumlah yang diperlukan
c) Tidak menggunakan secara berlebihan
d) Jika ada sisa, jangan mengembalikan bahan kimia ke dalam botol semula untuk mencegah kontaminasi
e) Menggunakan alat yang tidak bersifat korosif untuk memindahkan bahan kimia padat
f) Untuk bahan kimia cair, pindahkan secara hati-hati agar tidak tumpah
o Jika terkena bahan kimia :
a) Bersikap tenang dan jangan panik
b) Meminta bantuan teman yang ada di dekat Anda
c) Membersihkan bagian yang mengalami kontak langsung (dicuci dengan air bersih)
d) Jangan menggaruk kulit yang terkena bahan kimia
e) Menuju ke tempat yang cukup oksigen
f) Menghubungi paramedis secepatnya
o Masalah penanganan limbah bahan kimia :
a) Limbah berupa zat organik harus dibuang terpisah agar dapat didaur ulang
b) Limbah cair yang tidak berbahaya dapat langsung dibuang tetapi harus diencerkan dulu dengan menggunakan air secukupnya
c) Limbah cair yang tidak larut dalam air dan limbah beracun harus dikumpulkan dalam botol penampung dan diberi label
d) Limbah padat harus dibuang terpisah karena dapat menyumbat saluran air
e) Sabun, deterjen dan cairan yang tidak berbahaya dalam air dapat langsung dibuang melalui saluran air kotor dan dibilas dengan air secukupnya
f) Gunakan zat / bahan kimia secukupnya
PENGGOLONGAN MATERI
Skema Klasifikasi Materi
( berdasarkan komposisi kimia )
![]() |

I. Zat Tunggal ( Zat Murni )
ü Zat tunggal adalah suatu zat yang komposisinya terdiri atas zat-zat dengan sifat kimia yang sama.
ü Zat tunggal (zat murni) terdiri dari sejenis materi.
Contohnya : karbon, belerang, oksigen, air, alkohol
A. UNSUR
· Unsur adalah zat tunggal yang tidak dapat diuraikan lagi secara kimia menjadi zat-zat lain yang lebih sederhana.
· Unsur merupakan zat tunggal yang paling sederhana dari materi.
Contohnya : H, C, N, P, Fe, Au, Mg
o Lambang Unsur ( Lambang Atom )
Menurut Jons Jakob Berzelius (Swedia) :
Ø Setiap unsur dilambangkan dengan satu huruf yaitu huruf awal dari nama Latin unsur yang bersangkutan dan ditulis dengan huruf besar / kapital.
Ø Unsur yang mempunyai huruf awal yang sama, lambangnya dibedakan dengan menambahkan satu huruf lain dari nama Latin unsur tersebut; yang ditulis dengan huruf kecil.
Contohnya : Perhatikan Lampiran 2 Buku Paket Kimia!
B. SENYAWA
v Senyawa terbentuk oleh perikatan kimia dari dua atau lebih jenis unsur.
v Sifat suatu senyawa berbeda dengan sifat unsur penyusunnya.
Contohnya : senyawa H2O(l) dan NaCl(s)
II. Campuran
Campuran adalah materi yang terdiri atas 2 (dua) atau lebih zat dan masih mempunyai sifat zat asalnya.
Contohnya : larutan garam, air lumpur, santan
ü Permasalahan : Apa perbedaan bersenyawa dengan bercampur?
Partikel Dasar Penyusun Materi
Dapat berupa :
1) Atom
ü Atom adalah partikel terkecil dari suatu unsur yang masih mempunyai sifat-sifat unsur itu
ü Atom suatu unsur diberi lambang sama dengan lambang unsur tersebut
ü Contoh : Na, Mg, Ba, Ca, Fe
2) Molekul
§ Molekul adalah partikel netral yang terdiri dari 2 atau lebih atom, baik atom sejenis maupun atom yang berbeda.
§ Molekul yang terdiri dari sejenis atom disebut Molekul Unsur
§ Molekul yang terdiri dari atom-atom yang berbeda disebut Molekul Senyawa
§ Contoh : H2O; CO2; H2SO4
3) Ion
Ø Ion adalah atom atau kumpulan atom yang bermuatan listrik
Ø Ion yang bermuatan positif disebut Kation, sedangkan ion yang bermuatan negatif disebut Anion
Ø Ion yang terdiri dari 1 atom disebut Ion Tunggal ( monoatom ), sedangkan ion yang terdiri dari 2 atau lebih atom disebut Ion Poliatom
Ø Contoh :
Kation Tunggal : Na+, K+
Kation Poliatom : NH4+ , H3O+
Anion Tunggal : Cl-, S2-
Anion Poliatom : NO3-, OH-
Partikel Unsur ( bisa berupa atom ; bisa berupa molekul )
a. Pada umumnya, setiap unsur termasuk unsur logam mempunyai partikel berupa Atom
b. Hanya beberapa unsur non logam yang partikelnya berupa Molekul ( contoh hidrogen H2 ; fosforus P4 ; belerang S8 )
c. Molekul yang terdiri atas 2 atom disebut Molekul Diatomik ( contoh molekul hidrogen, nitrogen )
d. Molekul yang terdiri atas lebih dari 2 atom disebut Molekul Poliatomik ( contoh molekul fosforus, belerang )
Partikel Senyawa ( bisa berupa molekul ; bisa berupa ion )
o Dapat berupa Molekul ( disebut Senyawa Molekul ) atau Ion ( disebut Senyawa Ion )
o Senyawa dari unsur logam termasuk senyawa ion, sedangkan senyawa dari unsur non logam termasuk senyawa molekul.
Contoh senyawa molekul : air ( H2O ) ; senyawa ion : Kalsium karbonat ( CaCO3 )
Rumus Kimia
Menyatakan jenis dan jumlah relatif atom yang menyusun suatu zat.
Dibedakan menjadi 3 :
a. Rumus Molekul
Menyatakan jenis dan jumlah atom yang menyusun molekul suatu zat
Contoh : rumus molekul air ( H2O )
b. Rumus Kimia Senyawa Ion
Menyatakan jenis dan jumlah atom yang menyusun suatu senyawa ion
Ciri khas senyawa ion adalah salah satu atom penyusun senyawa tersebut bersifat logam ( letaknya di depan )
Contoh : Mg(NO3)2 ; BaCl2 ; CuSO4 ; NaCl
c. Rumus Empiris
Disebut juga Rumus Perbandingan; menyatakan jenis dan perbandingan paling sederhana dari atom-atom dalam suatu senyawa
Contoh : Etuna dengan rumus molekul C2H2 dan mempunyai rumus empiris CH
Rumus kimia senyawa ion adalah rumus empiris
Contoh : garam dapur ( NaCl )
Langganan:
Postingan (Atom)
